Bagi seorang muslim, ibadah wakaf tentu bukan hal asing lagi. Ibadah yang satu ini berupa kedermawanan seseorang dengan memberikan hartanya untuk manfaat bagi masyarakat luas secara berkelanjutan sehingga menjanjikan pahala yang tiada henti bagi pemberi wakaf (wakif).

Hanya saja banyak masyarakat yang beranggapan bahwa wakaf hanya berupa aset tanah dan bangunan saja, padahal bisa juga dalam bentuk tunai alias wakaf uang.

Menurut pengelolaan wkaaf uang ini berdasarkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004, mauquf berupa uang tidak bisa serta merta diserahkan pada nazhir, tetapi harus melalui Lembaga Keuangan Syariah (LKS).

Sehingga dengan adanya wakaf uang ini, lebih memudahkan masyarakat yang belum memiliki aset tetapi ingin berwakaf dan mendapatkan pahala. Sebab dalam berwakaf uang, tidak ada mininal angka yang bisa diwakafkan.

Bahkan manfaat asuransi syariah dan hasil investasi juga bisa diwakafkan. Hal ini diatur dalam Fatwa MUI 106/DSN-MUI/X/2016 yang mengatur tata cara waakf asuransi. Ini tentu saja menjadi solusi dan jalan yang lebih mudah untuk beramal. Tidak hanya mendapatkan manfaat perlindungan dari asuransi yang diikuti, tetapi juga sekaligus berbuat baik dengan memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat.

wakaf asuransi syariah

Asuransi syariah dalam bentuk wakaf ini maksudnya yaitu nilai investasi dari asuransi tersebut yang diwakafkan oleh tertanggung utama yang harus sepengetahuan dari ahli warisnya. Tujuan dari kafa asuransi adalah pemanfaatan asuransi dengan berinvestasi yang disalurkan pada pengelola wakaf sehingga hasil dan manfaatnya digunakan untuk kesejahteraan masyarakat.

Melihat dari kemudahannya, tentu saja wakaf asuransi syariah ini diprediksi bakal diminati masyarakat. Apalagi jika dilihat dari data Badan Wakaf Indonesia (BWI) yang menyebut potensi wakaf Indonesia mencapai Rp 180 triliun. Meskipun pada 2017 baru mencapai Rp 400 miliar. Tidak jauh berbeda, data dari Bank Indonesia juga menunjukkan tren positif yang sama di mana sektor sosial Islam mencakup wakaf berpotensi sekitar Rp 217 triliun. Angka ini setara dengan 3,4 persen PDB Indonesia. Sehingga jika melihat data tersebut, bisa diprediksi dana wakaf ini bisa memainkan peran penting dalam mempercepat pembangunan ekonomi dan juga mendukung stabilitas keuangan.

Terlepas dari data tersebut, wakaf asuransi ini diprediksi akan mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan sebab merupakan salah satu produk yang spesifik dan hanya ada pada asuransi syariah saja. Beberapa perusahaan asuransi syariah juga sudah memiliki produk wakaf asuransi ini seiring dengan tumbuhnya kesadaran dan pemahaman yang baik pada masyarakat, setidaknya akan menjadi trend tiga tahun dari sekarang.

Namun, literasi mengenai wakaf pada masyarakat ini memang masih tergolong rendah, hanya sekitar 8 persen saja atau hanya mengetahui sebatas adanya praktik yang sering terlihat di tengah masyarakat. Rendahnya tingkat literasi ini memang menjadi hambatan yang harus diupayakan oleh pihak terkait seperti pelaku industri, regulator, dan juga pihak terkait, untuk bisa memberikan edukasi pada masyarakat mengenai manfaat ataupun bentuk lain dari wakaf.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here